Selasa, 01 Sep 2026
Selasa, 1 Sep 2026 Kat : Berita Desa / PKK dan Posyandu

TP PKK DESA WUNUT GELAR PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

desawunutklaten.id Pada tanggal 24 Agustus 2026 TP PKK desa wunut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggelar pengajian akbar untuk semua anggota pkk sedesa wunut, dalam sambutannya Erma meikhawati selaku ketua TP PKK desa wunut mengatakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu tradisi keagamaan yang paling luas dirayakan oleh umat Islam termasuk Indonesia. Lebih dari sekadar seremoni tahunan yang jatuh pada 12 Rabiul Awwal, peringatan ini pada hakikatnya adalah momentum reflektif untuk mengenang kembali kehadiran seorang manusia agung yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa misi utama yang beliau sendiri tegaskan menyempurnakan akhlak manusia. nilai-nilai akhlak Nabi Muhammad SAW bagi upaya perbaikan moral

5 menit baca
Dilihat : 48x


Sedangkan kepala desa wunut iwan sulistiya setiyawan dalam sambutannya mengatakan bahwa secara historis, peringatan Maulid Nabi tidak ditemukan pada masa Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, maupun empat imam mazhab. Praktik ini baru terlembagakan secara masif pada awal abad ke-7 Hijriah, ketika penguasa Irbil (kini wilayah Irak), Sultan Muzhaffaruddin Kokburi, menyelenggarakan perayaan maulid secara besar-besaran setiap bulan Rabiul Awwal dengan mengundang para ulama dari berbagai disiplin keilmuan serta memberikan santunan kepada fakir miskin. Peristiwa ini direkam oleh sejarawan Ibn Khallikan berdasarkan kesaksian langsung seorang ulama yang hadir dalam perayaan tersebut, dan juga dicatat oleh Ibn Katsir dalam karya sejarahnya. Sebagian riwayat bahkan menelusuri akar tradisi ini lebih jauh ke belakang, pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, meskipun pembakuannya sebagai tradisi tahunan yang meluas baru terjadi pada masa Kokburi tersebut

Sejak awal kemunculannya, peringatan Maulid telah menuai respons beragam dari kalangan ulama. Sebagian ulama, seperti Imam As-Suyuthi, memandangnya sebagai bid’ah hasanah (inovasi yang baik) karena substansinya berupa penguatan kecintaan kepada Nabi, pembacaan sirah, dan sedekah. Sebaliknya, ulama seperti Ibn Taimiyah menilainya sebagai perkara baru (muhdats) yang tidak memiliki preseden dari generasi salaf, sekalipun beliau mengakui adanya nilai kecintaan kepada Nabi di baliknya. Polemik serupa juga hidup di Indonesia hingga kini, di mana sebagian ormas memandangnya sebagai sarana syiar yang baik, sementara sebagian lain menekankan pentingnya menjaga agar substansi akhlak dan sirah lebih diutamakan ketimbang seremoni semata. Terlepas dari perbedaan pandangan fikih tersebut, seluruh kalangan sepakat atas satu titik temu yang tidak diperdebatkan: kewajiban mencintai dan meneladani Rasulullah SAW sebagai bagian inti dari keimanan.

Pada acara inti peringatan maulid nabi muhaamad saw ini, Ustadz Mustaqim menguraikan sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang lahir di tengah masyarakat Arab jahiliyah yang diliputi kegelapan moral: perbudakan, penindasan terhadap perempuan, praktik riba, perjudian, dan pertumpahan darah antar suku menjadi pemandangan sehari-hari. Beliau lahir pada 12 Rabiul Awwal, bertepatan dengan peristiwa pasukan bergajah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah, meskipun sebagian riwayat sejarah menyebut tanggal 9 Rabiul Awwal sebagai versi alternatif. Dalam kondisi sosial yang demikian kelam itulah Allah SWT mengutus seorang manusia yang kelak menjadi suri teladan terbaik bagi seluruh umat manusia, yang secara bertahap namun pasti mengubah wajah peradaban Arab dari kejahiliyahan menuju cahaya keadaban dalam rentang waktu kurang dari seperempat abad. karena nabi muhammad mempunyai risalah membawa perubahan ahlaq, dalam sebuah hadist di sabdakan :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia

Terlepas dari perbedaan pandangan fikih mengenai hukum merayakannya, seluruh ulama sepakat bahwa substansi terpenting dari peringatan Maulid adalah menghidupkan kembali semangat meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan nyata. Pada konteks keindonesiaan, momentum ini menjadi semakin bermakna karena berdekatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Terdapat benang merah yang menghubungkan keduanya, kemerdekaan sejati sebuah bangsa tidak cukup diukur dari lepasnya penjajahan fisik semata, tetapi juga dari kemerdekaan akhlak, bebas dari korupsi, kebohongan, hedonisme, dan kerusakan moral. Nabi Muhammad SAW membebaskan bangsa Arab dari jahiliyah akhlak sebelum membebaskan mereka secara politik; maka sudah sepatutnya bangsa Indonesia yang telah 81 tahun merdeka secara politik kini menyempurnakan kemerdekaannya dengan kemerdekaan akhlaq, begitu juga dengan ahlaq para pemimpin di tingkat nasional sampai desa, semua harus amanah karena besok akan diminta pertanggung jawaban.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
Rasulullah SAW dikenal dengan gelar Al-Amin (yang terpercaya) jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati dibangun di atas fondasi integritas, bukan sekadar jabatan struktural. Nilai ini relevan diwujudkan, misalnya, oleh kepala daerah yang menolak gratifikasi proyek dan memilih mekanisme lelang terbuka, atau pejabat publik yang mempublikasikan anggaran daerah secara transparan di kanal resmi, sebagai bentuk amanah dalam bingkai pemerintahan modern. Sebaliknya, kepemimpinan yang mengandalkan pencitraan digital tanpa substansi kerja nyata merupakan bentuk kemunafikan (nifaq) versi kontemporer yang harus dihindari.

Dalam penutub ceramahnya ustadz mustaqim mengatakan delapan puluh satu tahun kemerdekaan Indonesia adalah anugerah besar yang mesti disyukuri melalui perbaikan akhlak, bukan sekadar seremoni kenegaraan. Wujud syukur atas kemerdekaan tidak cukup diwujudkan dengan mengibarkan bendera merah putih semata, tetapi juga melalui kehadiran pemimpin yang amanah, ulama yang menyejukkan, pengusaha yang berbisnis dengan barokah, pemuda yang produktif dan bijak bermedia sosial, serta perempuan yang berdaya sekaligus menjaga kehormatan diri. Jika Rasulullah SAW mampu mengubah wajah peradaban Arab dari kejahiliyahan menuju kemuliaan hanya dalam kurun waktu 23 tahun, maka bangsa Indonesia yang telah 81 tahun merdeka semestinya semakin dewasa dalam berakhlak, semakin bijak dalam bermedia sosial, dan semakin kokoh dalam menjaga persatuan.
Sebagaimana pesan penutup Rasulullah SAW:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِ“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
Semoga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H ini menjadi titik balik (turning point) perbaikan akhlak bangsa dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara demi mewujudkan kemerdekaan akhlak sebagai kemerdekaan yang sesungguhnya.

Penulis : Dwi Nur Hayati/ Sekretaris TP PKK Desa Wunut

.”

Berita Terkait...

Berikan sebuah komentar